Saturday, April 14, 2012

Menolak Bias Gender dalam Pendidikan

Nyatanya, bias gender belum hilang meski akses pendidikan sudah tidak memandang seksualitas.
Beberapa hari ini tidak terlihat senyum di wajah Nuniek. Ia risau memikirkan masa depannya. Dia sudah diterima di Jurusan Teknik Mesin sebuah perguruan tinggi negeri. Sayang, orang tuanya tidak menyetujuinya. Padahal surat kelulusannya masuk perguruan tinggi lewat jalur minat dan bakat sudah diterima. Harapan Nuniek untuk dapat mengaktualisasikan minat dan bakatnya, harus segera dikubur.

Orang tua Nuniek bersi keras ingin anaknya masuk jurusan akuntansi. “Biar bisa kerja di bank, dan punya citra perempuan yang cantik dan baik,” tutur ayah Nuniek. Sedang Ibu, punya argumen yang tak mau kalah kuat dari Ayah. “Perempuan itu sudah selayaknya bekerja di tempat yang bersih, bukan berurusan dengan oli, ” ucap Ibu.

Apa yang dialami Nuniek, ternyata juga terjadi pada murid-murid sekolah di Kanada pada sekitar abad ke-17. Di masa itu, terdapat pembatasan terhadap anak perempuan untuk memilih mata pelajaran. Matematika, teknik, dan beberapa mata pelajaran lain yang berhubungan dengan ke-lelaki-an dilarang diambil.

Kenyataan adanya diskriminasi tersebut membawa reaksi perlawanan kaum feminis. Mereka, menyakini pendidikan sudah semestinya terbuka untuk semua orang. Tidak terbatas jenis kelamin dan gender. Mereka memadukan studi feminis dan studi pendidikan, maka jadilah sebuah gagasan yang diberi nama Pedagogi Feminis.

Pedagogi feminis yang mereka gagas ini tidak terbatas hanya pada isu gender, seperti kebanyakan perspektif feminis lainnya, tetapi juga membahas keseluruhan ketidakadilan sosial. Medan kajian dan penerapan pedagogi feminis berada ruang kelas. Hal ini karena ruang kelas diyakini sebagai ruang yang tepat untuk memberikan pemahaman tentang tentang realitas sosial, termasuk ketidakadilan

Salah satu bentuk diskriminasi yang dibahas ialah pencampur-adukan jenis kelamin dan gender. Jenis kelamin adalah hal kodrati yang tak bisa diubah. Sementara gender, merupakan hal yang dijadikan parameter pengidentifikasian peran laki-laki dan perempuan, dan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat. Mengingat Indonesia adalah negara yang multikultur dan multietnis, siswa sangat mungkin berangkat dari latar belakang budaya yang berbeda. Namun, perspektif pedagogi feminis justru berusaha mengakomodir itu semua.

Kehadiran bias gender dalam dunia pendidikan tidak lain merupakan buah dari proses konstruksi sosial. Salah satunya lewat kurikulum pendidikan. Contohnya, pada buku-buku teks sekolah dasar tertulis ayah pergi ke kantor, ibu pergi ke pasar, Ayah setiap hari bekerja, ibu tugasnya memasak. Melalui berbagai pendekatan, paradigma tersebut dilanggengkan. Sehingga hal-hal yang sebenarnya tidak adil, menjadi sesuatu yang wajar karena sudah terlalu lama diterapkan.

Sejak zaman kemunculannya hingga konteks hari ini, pembahasan pedagogi feminis masih sangat penting untuk dikaji dan diterapkan. Karena ternyata masalah bias gender belum hilang, meski akses pendidikan bagi perempuan sudah terbuka lebar. Sayangnya, pedagogi feminis tidak mungkin berjalan apabila guru tidak memiliki perspektif terkait keadilan sosial.

Oleh karena itu, untuk membentuk guru-guru yang memiliki perspektif keadilan sosial, kampus-kampus LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan)-lah kunci awalnya. Di tengah karut-marut masalah pendidikan di Indonesia, LPTK semestinya memang memiliki determinasi konkrit, untuk mengambil peran besar dalam upaya perubahan masyarakat.

Kurnia Yunita Rahayu

No comments:

Post a Comment