Saturday, March 24, 2012

Sekolah Berkeadilan Sosial

Judul : Serikat Islam Semarang dan Onderwijs
Penulis           : Tan Malaka
Penerbit         : Pustaka Kaji
Tahun Terbit : 2011
Halaman        : 61 Halaman 

Jangan ajarkan kami soal a,b,c yang abstrak, karena yang harus diselesaikan adalah masalah-masalah konkrit.

Harapan rakyat pribumi untuk bisa mengenyam pendidikan hampir menemui titik terang. Digelontorkannya kebijakan Politik Etis (1901) oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda seakan jadi jawaban. Edukasi, irigasi, dan emigrasi diharap jadi jalan balas budi, atas apa yang telah rakyat berikan selama beratus tahun.

Jalan pendidikan bagi rakyat mulai terbuka. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih  bisa didapat. Sistem sekolah yang dibuat terbagi dalam dua jalur. Eropa totok dan pribumi. Dua perbedaan mendasar dari kedua jalur itu, terlihat jelas. Penggunaan bahasa pengantar, dan durasi sekolah. 

Sekolah anak-anak Eropa jelas menujukan muridnya pada keterampilan kerja otak. Sementara sekolah pribumi, setingginya membentuk lulusan sebagai juru tulis di kantor-kantor kolonial. Nilai Politik Etis yang diharap memberi masa depan cerah. Nyata hanya mereproduksi manusia-manusia yang digunakan untuk melanggengkan kepentingan pemerintah kolonial.

Berangkat dari realitas ini, maka mulai bermunculan ide-ide untuk membuat sekolah yang berpihak pada rakyat. Sekolah-sekolah partikelir, begitu kiranya disebut. Salah satunya Tan Malaka dengan Sekolah Serikat Islam-nya. Tahun 1921, muncul brosur tulisan Tan Malaka yang berjudul S.I. Semarang dan Onderwijs, berisi penjelasan tentang sekolah yang didirikan serta dikelolanya. 

Sekolah Serikat Islam Semarang didirikan untuk anak-anak pengurus serta aktivis Serikat Islam dan kaum kromo lainnya. Didirikan pada tahun 1921, atas permintaan dari ketua umum Partai Komunis Indonesia (PKI) pertama, Semaun. Ia memilih Tan Malaka atas dasar latar belakang pendidikannya. Tan Malaka memang seorang revolusioner yang memiliki kecendrungan di bidang pendidikan. Hal ini tidak lepas dari latar belakangnya sebagai lulusan sekolah guru di Bukit Tinggi, dan sempat meneruskan Sekolah Tinggi Guru di Haarlem, Belanda. 

Semaun dan Tan Malaka sepakat untuk mendirikan sekolah yang berbasis ideologi kerakyatan. Menurut Tan Malaka, “kekuasaan kaum modal terdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kemerdekaan rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.” Sadar akan kondisi ketertindasan rakyat, sekolah Serikat Islam dibentuk dengan tujuan lulusannya dapat menafkahi dirinya sendiri dan keluarga, serta membantu pergerakan rakyat.

Sekolah Serikat Islam menjadi representasi dari pola pikir Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) Tan Malaka. Pola-pola anti kolonial diterapkan. Soal-soal pertukangan, menjahit, pidato, berorganisasi, serta ide-ide kemerdekaan diajarkan disini. Selain itu, anak-anak pun dianjurkan untuk aktif tampil di vergadering-vergadering agar lebih banyak bersentuhan dengan rakyat. Dengan begitu mereka paham masalah dan apa-apa yang dirasakan oleh rakyat. 

Intelektual lulusan Sekolah Serikat Islam adalah orang-orang yang mencintai rakyatnya, Bukan para akademisi yang membentuk ruang eksklusif bagi kalangannya sendiri. 

Kontekstual dan Menjawab Tantangan

Netralitas atas pendidikan merupakan sebuah kenaifan. Tidak ada pendidikan yang membawa pengetahuan secara objektif. Selalu ada berbagai alasan mengapa sebuah pengetahuan bisa muncul. Sejarah pun menjawabnya dengan satu benang merah, relasi dengan kelompok dominan.

Kecendrungan dominasi kapital makin merajalela. Untuk menghadapi itu, pertama Tan Malaka membekali murid sekolah Serikat Islam dengan amunisi untuk mencari penghidupan dunia kemodalan. Membaca, menulis, hitung, masih diyakini sebagai kuncinya. 

Yang kedua murid-murid perlu diberi ruang untuk menikmati setiap fase perkembangannya. Sekolah govermen dengan berbagai kesibukan akademisnya nyata telah merepresi anak. Kewajiban untuk menghapal berbagai bahasan, pekerjaan rumah yang diberikan, membentuk anak-anak dengan satu kesibukan sepanjang hari, yaitu belajar. Sehingga teralienasi dari lingkungan sosialnya, kemudian potensial menjadi manusia-manusia berwatak individual.

Pada dasarnya, anak memang suka bermain dan berkumpul. Dalam perkumpulan itu, murid-murid sekolah Tan Malaka membentuk organisasi-organisasi kecil dari permainannya. Sengaja Tan tidak mengintervensi mereka dalam menentukan arah serta peraturan-peraturan. “Kita bukan hendak membentuk mereka menjadi gromopon, kita mau, supaya dia berpikir dan berjalan sendiri,” (Tan Malaka:1921).

Ketiga, membentuk kesadaran bahwa kelak mereka memiliki kewajiban terhadap kaum-kaum kromo lainnya. Sekolah govermen mendidik murid dengan menihilkan rasa cinta kepada rakyat. Melupakan kewajiban untuk menaikkan derajat orang-orang miskin. Didikan seperti ini melahirkan sebuah kelas baru yang terpisah dari rakyat, yang kemudian disebut terpelajar. 

Satu hal lagi yang turut membidani kelahiran kaum “terpelajar” adalah adanya pemisahan kerja otak dengan kerja tangan. Sekolah biasa, dianggap hanya untuk mencari kepandaian otak saja. Sementara kerja tangan dianggap sebagai yang rendahan. 

Maka untuk mengatasi kondisi seperti ini, hal pertama yang dilakukan di sekolah adalah melepas paradigma bahwa kaum kromo dengan pekerjaan tangannya itu rendah. Kebencian tak beralasan kepada mereka segera dihilangkan. Kemudian mengintimkan hubungan dengan kaum melarat.

Mandiri Mereproduksi Guru

Permintaan pendirian Sekolah Serikat Islam di beberapa kota makin gencar. Hal ini tentunya karena secara pembiayaan cenderung lebih murah, dan secara pematerian dapat memberi lebih dari sekolah govermen. Namun, satu masalah yang mencuat adalah soal kekurangan guru.

Sedikit orang melamar sebagai guru di Sekolah Serikat Islam. Terutama lulusan kweekschool, mereka belum melirik menjadi guru disana. Bukan besar gaji yang jadi persoalan, namun lebih kepada haluan yang berbeda. 

Mengatasi hal ini, Sekolah Serikat Islam mandiri memproduksi guru. Dipekerjakanlah anak-anak lulusan sekolah ongko loro. Lulusan sekolah ongko loro sudah berkompeten dalam baca, tulis, hitung, dan beberapa ilmu lain. Sehingga mereka bisa diperbantukan untuk mengajar sekolah rendah.

Juga dilakukan pemberdayaan atas mereka. Setelah mengajar sekolah rendah pagi sampai siang hari, mereka diberi kursus pedagogi sore harinya. Bicara kesejahteraan, penghasilan yang progresif mereka terima, sesuai dengan tingkat kursus dan kelas yang diajar.

Lulusan Sekolah Serikat Islam memang dirancang untuk menjadi pemimpin yang revolusioner. Para pemuda yang lulus kursus S.I. Semarang bisa menjadi guru S.I. lainnya. Pun jalan mereka sudah terbuka untuk memimpin rakyat. Kemampuan menjadi pembela perkumpulan politik sudah dimiliki. Karena ilmu-ilmu macam itu, sudah diteori dan dipraktikkan di Sekolah Serikat Islam.

Kurnia Yunita Rahayu

Tuesday, March 13, 2012

Berpikir Itu Seperti Otot


Judul Film : Dangerous Minds

Rilis          : 1995

Produksi   : Hollywood Picture

Sutradara  : John N. Smith

Pemain      : Michelle Pfeifer, George Dzundza, Courtney B. Vance, Robin   Bartlett, Beatrice Winde

Berbagai ide berbahaya dalam pendidikan ditampilkan dalam film ini.

Louanne Johnson muda, cantik, dan energik. Berbekal gelar sarjana Bahasa Inggris dan beragam pengalaman kerja sebelumnya, ia memutuskan diri untuk melamar pekerjaan sebagai guru. Beragam pekerjaan pernah dilakoninya, mulai dari public relation, pemasaran, hingga angkatan laut Amerika Serikat. Kompetensinya terakreditasi dengan baik di semua bidang, kecuali satu, bidang pendidikan. Ia hampir mendapat sertifikasi sebagai tenaga pendidik, namun hal itu terhenti karena ia menikah dan membantu pekerjaan suaminya. Malang tak dapat ditolak, belum bertahun usia perkawinannya, semua harus retak, ia bercerai.

Ia diterima sebagai guru di sekolah tempatnya melamar. Tidak tanggung-tanggung, diterima sebagai guru penuh, bukan sekedar paruh waktu. Louanne ditempatkan untuk mengajar di Academy Class. Kelas dengan murid-murid istimewa, cerdas, penuh gairah belajar, dan selalu tertantang untuk terus maju. Setidaknya begitu yang dipaparkan Carla, asisten kepala sekolah yang menerima lamaran Louanne.

Hari pertama mengajar, Louanne datang dengan penuh semangat. Berpakaian rapi dan lengkap laiknya seorang guru. Mempersiapkan kurikulum dan berbagai bahan ajar. Namun, apa yang didapatinya sungguh di luar ekspektasi.

Academy Class dipenuhi oleh anak-anak berkulit hitam, ya paling tidak mereka anak-anak miskin dari Amerika Latin. Perilakunya juga mengagetkan Louanne. Hari pertamanya, disambut dengan murid-murid yang asik bernyanyi dengan memukul-mukul meja sesuka hati. Mereka menantang Louanne apakah bisa bertahan di kelas mereka. Karena guru sebelumnya pun memutuskan untuk keluar akibat tidak tahan dengan sikap mereka. Tidak berhenti pada hal itu, seorang murid pun berani menggoda Louanne, meleceh keperempuanannya. Beberapa menit saja ia masuk di kelas itu, ia benar memutuskan diri untuk keluar. Kepergiannya dari kelas diiringi lemparan kertas dari seluruh murid.

Di luar kelas, ia mencari sahabat yang merekomendasikannya untuk melamar di sekolah ini, Hal Griffith. Louanne  geram mendapati Griffith yang dapat mengajar secara normal di kelas sebelahnya. Ia memaksa Griffith keluar. Geram, marah, mengadu ia pada Griffith. Tak terima atas penjelasan Carla, ia menuntut penjelasan lebih dari Griffith. Griffith pun memberitahukan bahwa Academy Class terdiri dari anak-anak dengan kompetensi akademik yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Tetapi mereka seperti itu, bukan tanpa sebab, mereka merupakan anak-anak yang berangkat dari beragam masalah sosial.

Tidak terima atas keadaan ini, Louanne terpikir untuk menyerah. Namun, kata-kata Griffith senantiasa menjadi angin yang mengipas bara semangatnya untuk terus menyala. “All you gotta do is get their attention, or quit!” tegas Griffith.

Berangkat dari keinginan murninya untuk mengajar, Louanne pun tekun mempelajari buku-buku disiplin asertif. Berbagai fenomena dan perilaku murid di kelas ia dapatkan dan pelajari sebelum masuk ke kelas. Paham akan sesuatu yang harus dilakukan, ia pun berangkat ke sekolah, mengajar, dengan semangat yang baru.

Bukan cara-cara ajaib  dengan metode rumit dan canggih yang ia lakukan hari itu. Hari itu, ia justru datang untuk menjadi bagian dari murid-muridnya di kelas. Dengan berpakaian yang sama dengan gaya murid-murid, ia mencoba memahami mereka dari bagian terluarnya.

Gaya para murid yang brutal, menginspirasi Louanne untuk tidak mengajar subjek yang menjadi disiplin ilmunya terlebih dahulu, Bahasa Inggris. Dengan bekal pengalamannya sebagai anggota Angkatan Laut Amerika Serikat, ia memulai pelajaran hari itu dengan materi Karate. Ya, Karate. Salah satu cabang bela diri yang berasal dari negara Jepang. Nyata melalui Karate, murid-murid begitu tertarik, karena pada dasarnya mereka pun suka berkelahi.

Sejatinya, Louanne memiliki pola yang sama dengan Paulo Freire ketika ditugasi untuk melakukan pemberantasan buta huruf di Guinea Bissau. Freire tidak mau mengajar, memberantas buta huruf di masyarakat sebelum mempelajari masyarakat itu sendiri. Ia harus menjadi bagian dari masyarakat, untuk memahami apa yang dirasakan, dan bisa menyusun apa yang akan dilakukan untuk melepas situasi yang menekan.

Murid-murid Academy Class kaya akan masalah sosial. Emilio yang berlatar keluarga broken home, miskin. Callie gadis misterius yang harus bekerja di supermarket setiap pulang dari sekolah. Duller dan Lionel keluarganya tidak setuju dengan sekolah, karena dianggapnya tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi hidup mereka. Dari keadaan ini, Louanne mencoba untuk mengenal mereka satu persatu. Dengan berbagai pendekatan baik yang persuasif, hingga yang adiktif.

Ide-ide Berbahaya

Gambaran bahaya sistem pendidikan di Amerika, digambarkan jelas dalam film ini. Pertama, adanya pemisahan  kelas untuk siswa-siswi berkompetensi akademik rendah dan memiliki beragam masalah sosial. Mereka dikelompokkan menjadi satu kelas. Hal ini tentu mengalienasi mereka dari lingkungannya. Teman-teman di sekolah melihat mereka sebagai siswa rendahan. Pun di masyarakat, mereka dianggap sekelompok manusia berkelakuan minus.  Keberadaan kelas ini bukan terlihat sebagai tempat untuk mendidik malah lebih mirip dengan penjara anak-anak.

Kedua, kelas ini mampu mengusir guru standar yang mengajar di kelas mereka. Kecenderungan guru pada umumnya adalah menyamaratakan perlakuannya terhadap siswa. Pendekatan yang dilakukan, sama kepada semua anak didiknya. Padahal ada beberapa situasi yang mengharuskan guru melakukan pendekatan berbeda terhadap siswanya. Terkait latar belakang kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Seperti anak-anak di Academy Class.

Beruntung Academy Class kedatangan Louanne  Johnson yang diperankan apik oleh Michelle Pfeiffer. Ia datang dengan segudang ide untuk belajar bersama mereka. Idenya untuk mengenal lebih jauh pribadi mereka dapat dianggap berbahaya pula. Louanne berani melebur diri dalam situasi siswa dengan beragam latar belakang masalah sosial. Kebanyakan dari mereka adalah bagian dari gangster-gangster dengan kehidupan yang keras.

Nilai pendidikan kritis pun ditampilkan dalam film yang disutradarai oleh John M. Smith ini. Materi yang dibawakan oleh Louanne saat mengajar bukan berasal dari rumusan baku ataupun kurikulum. Ia berangkat melalui puisi, yang menampilkan syair-syair beresensi pantang menyerah. Hal ini disesuaikan dengan kondisi Academy Class yang penuh dengan masalah sosial.

Louanne menekankan kepada siswa-siswanya bahwa kerja keras dalam belajar adalah kunci keberhasilan. Menurut Louanne, berpikir itu seperti otot. “If you want it to be really powerful, you got to work it out. Each new fact, give you another choice. Each new idea builds another muscle. And its those muscles that are gonna make you really strong. Those are your weapons in this unsafe world.”

Kurnia Yunita Rahayu

Sunday, March 4, 2012

Maya

Maya, kau rekam semua jejak. Baik yang ingin diingat, maupun dibuang.

Sejujurnya, benar aku ingin menjauh diri darimu, Maya.