Tuesday, June 12, 2012

Lewat Sembilan Tahun

Lebih dari itu semua, ada hidup yang akan lebih tertutup bagimu untuk mengerti. Ada hidup yang bersekat tebal dengan canda tawa riang masa pubertasmu. Ada hidup yang selalu dihalangi berbagai kenyamanan saat kau berkumpul dengan kawan sebayamu. Ada hidup yang baru akan dan bisa kau mengerti setelah kau temukan siapa dirimu.

Selamat, ya. Satu lagi tahapan sekolahmu telah berhasil dilalui dengan baik. Jenjang pendidikan yang diwajibkan oleh pemerintah sudah selesai kau tempuh, selesai, memuaskan. Sembilan tahun yang sudah lewat semoga bukan cuma lembaran usang yang siap dilipat rapi di dalam kotak lalu mengirimnya ke Bantar Gebang. Meski tumpukan buku dan kertas yang kau gunakan selama sembilan tahun itu akan segera kugiring dalam bara api. 

Lewat sembilan tahun, belajar di sekolah. Berstatus sebagai pelajar. Diajar berbagai mata pelajaran, yang kupikir, maaf, tidak akan membantumu hadapi hidup. Pemerintah memang curang, setengah-setengah bekali warganya buat jalani hidup di Negara yang diaturnya. Lewat sembilan tahun, belum akan ada yang bisa dilakukan.

Maka itu, mereka merancang satu lagi anak tangga yang harus dipijaki, sebelum sampai pada puncak capaian pendidikan: perguruan tinggi. Anak tangga yang satu itu, ah, bukan sulit kan kau dapat. Bekal yang terkumpul dalam waktu lewat sembilan tahun itu  mampu mengantarmu ke sekolah manapun yang kau pilih. Sekarang, tugaskan jari telunjukmu untuk memilih, kemudian ikuti saja kemana arah yang ia tuju.

Namun, ada satu hal yang harus kuingatkan padamu tentang masa sembilan tahun yang sudah kau lewat ini. Capaianmu yang sebenarnya bukanlah data statistik yang meski sudah baik, masih kau umpat karena merasa kurang puas. Yang jadi tujuanmu bukanlah seberapa populer sekolah menengah yang akan kau pilih beberapa hari lagi. 

Lebih dari itu semua, ada hidup yang akan lebih tertutup bagimu untuk mengerti. Ada hidup yang bersekat tebal dengan canda tawa riang masa pubertasmu. Ada hidup yang selalu dihalangi berbagai kenyamanan saat kau berkumpul dengan kawan sebayamu. Ada hidup yang baru akan dan bisa kau mengerti setelah kau temukan siapa dirimu.

Untukmu yang siap menjumpa indahnya hidup, terlelaplah di dalamnya, tenggelamlah bersama hiruk-pikuknya. Usah kau pikirkan hidup yang kusebut-sebut lebih kejam dari nenek sihir dalam cerita dongeng di negeri manapun di seluruh penjuru dunia. Ini memang masamu, saat yang tepat untuk menikmat waktumu.

Jangan biarkan kulit wajahmu berkerut sebelum tiba waktunya. Raihlah segala yang bisa kau raih. Bernyanyilah sampai seluruh dunia menyertai senandungmu. Berlarilah sampai kau tahu bahwa duniamu tiada pernah punya ujung. Hiduplah, dan jangan pernah berpikir untuk tidak hidup di dalam dunia manusia dan kemanusiaanmu. 

Akan tetapi, ada satu permintaanku: berjanjilah, untuk tetap memanusiakan dirimu, dan untuk melawan siapapun yang berani mencerabutnya dari dalam dirimu.

Buat Adikku, dari Mbak-mu,

Kurnia Yunita Rahayu

Friday, May 25, 2012

Selamat 48, UNJ!

Empat puluh delapan tahun perjalanan Universitas Negeri Jakarta (UNJ)  menorehkan banyak guratan dalam sejarahnya. Sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), tentunya banyak guru yang dihasilkan. Selain itu, sedikit beromantisme, satu-satunya kampus negeri yang berdiri di ibukota ini, juga banyak menelurkan gagasan yang kemudian dilanjutkan menjadi kebijakan pendidikan nasional.

LPTK yang sudah berdiri sejak tahun 1964 ini, mencapai tingkat sempurna dalam metamorfosis bentuknya. Mulai dari sebuah institut yang membidangi ilmu-ilmu kependidikan hingga menjadi sebuah universitas, yang menaungi beragam disiplin ilmu di luar kependidikan. Akan tetapi, perluasan mandat yang diterima oleh IKIP Jakarta pada tahun 1999, ternyata berimbas pada ketiadaan orientasi bagi institusi ini.

IKIP Jakarta yang kemudian berganti nama menjadi UNJ, tidak lagi memproduksi gagasan yang berpengaruh dalam dunia pendidikan nasional. Proses pembelajaran hanya menghasilkan insan-insan yang berkemampuan mereproduksi pengetahuan. Institusi ini, mandul gagasan pendidikan. Begitu pula dengan disiplin ilmu di luar kependidikan. Hingga belasan tahun kelahirannya, belum ada hasil penelitian maupun prestasi yang bisa menjadi ukuran keberhasilan. Jadi tidak berlebihan untuk dikatakan, institusi ini tidak memiliki arah jelas yang akan dituju setelah konversinya.

Salah satu faktor yang menyebabkan miskinnya gagasan dari para civitas academica adalah melemahnya budaya akademik. Mahasiswa UNJ kini dilenakan dengan berbagai aktivitasnya di dalam ruang kelas. Sibuk dengan begitu banyak tugas, juga tertekan dengan pembatasan masa studi yang diberlakukan kampus. Imbasnya, tidak ada lagi keinginan untuk menggaungkan budaya baca, tulis, dan diskusi. Karakter psikis bawaan yang tumbuh adalah bagaimana bisa menyelesaikan studi dalam waktu yang singkat, tanpa harus menghidupkan kampus dengan budaya akademik.

Melemahnya budaya akademik nyata juga memarjinalkan dan mengalienasi mahasiswa dari lingkungan sosialnya. Segelintir mahasiswa saja yang paham bahwa di akhir tahun 2011 lalu, dua pejabat kampus terlibat kasus korupsi. Pembantu Rektor III dan seorang dosen Jurusan Teknik Sipil disahkan sebagai tersangka penggelembungan anggaran proyek pengadaan laptop dan sarana penunjang laboratorium. Tentunya, adanya kasus ini menjadi hal yang memalukan bagi universitas. Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menutupi kebenaran. Terlebih lagi, membahas soal korupsi bukan hanya bicara moral. Akan tetapi ada pola kerja dan kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya penggelembungan dana proyek tersebut.

Munculnya kasus korupsi juga tidak bisa dilepaskan dengan sistem PK-BLU (Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum) yang sudah sejak tahun 2009 diberlakukan di UNJ. Titik tekan dalam kebijakan ini adalah pemberlakuan otonomi kampus. Otonomi yang dilakukan, sangat riskan terhadap munculnya oligarki kekuasaan dalam tubuh rektor. Khususnya dalam kasus ini, Bedjo Sujanto yang dikabarkan ada “main” dengan pihak perusahaan yang menangani proyek, bisa leluasa mengatur pembagian jabatan di bawahnya dengan berbagai resiko.

Otonomi yang dilakukan kampus, adalah otonomi dalam pengelolaan keuangan. Dengan disahkan serta dilaksanakannya PK-BLU di kampus pendidikan ini, maka tidak heran jika pada tahun 2011, biaya kuliah naik sekitar 60% dari tahun sebelumnya. Bahkan, sejumlah 217 mahasiswa baru UNJ 2011 yang sudah dinyatakan diterima, harus hengkang karena tidak mampu melunasi biaya kuliah, dan pihak kampus angkat tangan menyikapinya. Kewenangan yang diberikan pemerintah kepada universitas untuk mencari dana sendiri dalam pembiayaan kegiatannya, sungguh merupakan bentuk nyata dari swastanisasi perguruan tinggi negeri.

Rasionalisasi yang digunakan dalam kenaikan biaya kuliah adalah sehubungan dengan pembangunan fisik yang sedang gencar dilakukan oleh kampus. Gedung megah dan tinggi yang jadi prioritas utama kampus jelas-jelas tidak berpihak pada mahasiswa penyandang ketunaan. Berbagai usulan serta protes sudah dilancarkan oleh mahasiswa. Hingga di tahun 2011, mahasiswa dari  berbagai jurusan membentuk sebuah aliansi yang berkonsentrasi memperjuangkan soal-soal aksesibilitas.

Beragam ketidak beresan yang terjadi di UNJ ini mungkin akan sampai pada titik nadir jika tidak ada perubahan dan perbaikan. Untuk itu, mahasiswa sebagai stake holder  harus segera turun tangan untuk melawan kondisi ini. Dengan melakukan aksi pemogokan, mungkin para pemangku kebijakan kampus baru bisa sadar atas segala yang mencerabut mahasiswa dari akar-akar kemanusiaannya.

Tulisan ini hadir bukan sebagai aksi penyerangan atau menjadi sekedar alternatif dalam memeriahkan rangkaian acara ulang tahun UNJ yang ke-48. Terlebih saya hadir sebagai mahasiswa. Momen perayaan 48 tahun ini harus bisa merefleksi kondisi nyata kampus. Serta sesegera mungkin melakukan perubahan untuk pendidikan, yang sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat.
Selamat 48, UNJ!

Kurnia Yunita Rahayu

Saturday, April 14, 2012

Industrialisasi Kultur Akademik

Birokrasi universitas begitu gencar melakukan aksi politis dalam rangka mengintegrasikan psikologi industrial ke dalam nilai, kultur, moral, dan lingkungan kampus.
Tiga buah jarum yang berputar di jam tangan Dina tepat bertengger di angka dua belas. Terik matahari siang itu memanggil-manggilnya untuk segera keluar kelas. Jam kuliah memang sudah selesai. Tanpa ragu, Dina pun melangkahkan kakinya keluar kelas untuk langsung pulang ke rumah.

Dina memang tidak memiliki aktivitas lain di kampus kecuali kuliah. Sudah sibuk dengan kuliah dan segala perintilannya di kelas, ia memilih untuk tidak berorganisasi. Cukup baginya mengaktualisasikan diri di dalam ruang kelas. Hal itu, dijewantahkannya dengan senantiasa mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen-dosen.

Bukan Cuma Dina yang mengambil sikap untuk tidak berorganisasi di kelas. Sebagian besar kawannya memilih melakukan hal yang sama. Alasan mereka pun seragam, ruang kuliah sudah cukup menyita waktu dan keseriusan. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah waktu untuk beristirahat sejanak di rumah. Untuk kemudian kembali disibukkan dengan beragam jenis kegiatan yang muncul dari belasan mata kuliah.

Keseragaman sikap yang diambil oleh Dina dan teman-teman sekelasnya, menjadi cerminan kehidupan sebagian besar kehidupan kampus hari ini. Mahasiswa tidak lagi dinamis di luar ruang kelas. Mereka disibukkan dengan kegiatan akademis, namun tidak ada hasil akademis memuaskan, yang dapat dijadikan ukuran kemajuan pendidikan. Rupanya, setelah terbitnya kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) di tahun 70-an, muncul lagi berbagai pendisiplinan dan normalisasi di dalam kehidupan kampus.

Pendisiplinan dan normalisasi dijewantahkan dalam tindak represi dan kekerasan akademis, yang bertujuan untuk mengintegrasikan nilai, kultur, moral, dan aturan-aturan yang relevan dengan kepentingan kampus. Seiring dengan makin berkembangnya nilai komersialisasi pendidikan maka kehidupan kampus pun direlasikan dengan kapital.

Hal tersebut dilakukan untuk menjamin situasi temporal berupa stabilitas dalam atmosfer dan situasi sosial kampus. Juga dalam rangka memastikan karakter bawaan dan psikis mahasiswa sebagai pribadi-pribadi yang patuh dan permisif atas segala ketidak adilan. Serta menjadi manusia-manusia yang penuh dengan ketakutan atas ketidakpastian masa depan, namun tetap kreatif agar dapat menunjang produktivitas yang dibutuhkan oleh kapital.

Dalam tataran pelaksanaan, proyek-proyek pendisiplinan di universitas hadir dalam beberapa rupa. Pertama, pembatasan waktu studi. Secara ekonomis, hal ini bertujuan menciptakan produk sarjana dengan kompetensi tertentu secara efisien. Mahasiswa dicipta dalam waktu produksi sesingkat mungkin, hingga menjadi orang-orang yang kompetitif dalam pasar kerja. Serta mendorong pola interaksi sosial dan kultur studi dalam universitas menjadi lebih teralienasi, dan terisolasi satu sama lain. Dalam kondisi normal seperti ini, kontrol dan dominasi dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

Kedua, perubahan kurikulum dan durasi belajar. Dengan menerapkan metode belajar baru yang lebih padat, kemudian membuang beberapa mata kuliah yang dianggap tidak produktif dan hanya memberatkan beban sks. Ketiga, digunakannya metode-metode kontrol secara lebih terintegrasi dan tersentral seperti: KRS elektronik, pengintegrasian sistem perbankan, sampai pada tindak penyusupan intelijen sebagai dosen atau mahasiswa.

Yang terakhir adalah penghapusan otonomi dan hak-hak mahasiswa. Dalam tataran ekstrim, kampus dapat melakukan pelarangan berorganisasi atau pemberangusan serikat mahasiswa. Sehingga kooptasi dalam pemerintahan mahasiswa dapat dilakukan. Pemanfaatan ruang dan waktu akademik resmi pun bisa diperketat. Hal tersebut tentunya merupakan ekspresi terjelas dalam melucuti kebebasan mahasiswa dan memperkuat alienasi dalam relasi sosial sehari-hari.

Jika keadaan yang dibentuk oleh kampus sudah merancang mahasiswa semakin teralienasi dari lingkungan sosialnya, maka tidak heran jika minat berorganisasi pun menurun. Kehidupan berorganisasi dipandang sebagai hidup yang abnormal, dan akan menghambat pencapaian masa depan cerah setelah lulus dari universitas.

Kurnia Yunita Rahayu

Menolak Bias Gender dalam Pendidikan

Nyatanya, bias gender belum hilang meski akses pendidikan sudah tidak memandang seksualitas.
Beberapa hari ini tidak terlihat senyum di wajah Nuniek. Ia risau memikirkan masa depannya. Dia sudah diterima di Jurusan Teknik Mesin sebuah perguruan tinggi negeri. Sayang, orang tuanya tidak menyetujuinya. Padahal surat kelulusannya masuk perguruan tinggi lewat jalur minat dan bakat sudah diterima. Harapan Nuniek untuk dapat mengaktualisasikan minat dan bakatnya, harus segera dikubur.

Orang tua Nuniek bersi keras ingin anaknya masuk jurusan akuntansi. “Biar bisa kerja di bank, dan punya citra perempuan yang cantik dan baik,” tutur ayah Nuniek. Sedang Ibu, punya argumen yang tak mau kalah kuat dari Ayah. “Perempuan itu sudah selayaknya bekerja di tempat yang bersih, bukan berurusan dengan oli, ” ucap Ibu.

Apa yang dialami Nuniek, ternyata juga terjadi pada murid-murid sekolah di Kanada pada sekitar abad ke-17. Di masa itu, terdapat pembatasan terhadap anak perempuan untuk memilih mata pelajaran. Matematika, teknik, dan beberapa mata pelajaran lain yang berhubungan dengan ke-lelaki-an dilarang diambil.

Kenyataan adanya diskriminasi tersebut membawa reaksi perlawanan kaum feminis. Mereka, menyakini pendidikan sudah semestinya terbuka untuk semua orang. Tidak terbatas jenis kelamin dan gender. Mereka memadukan studi feminis dan studi pendidikan, maka jadilah sebuah gagasan yang diberi nama Pedagogi Feminis.

Pedagogi feminis yang mereka gagas ini tidak terbatas hanya pada isu gender, seperti kebanyakan perspektif feminis lainnya, tetapi juga membahas keseluruhan ketidakadilan sosial. Medan kajian dan penerapan pedagogi feminis berada ruang kelas. Hal ini karena ruang kelas diyakini sebagai ruang yang tepat untuk memberikan pemahaman tentang tentang realitas sosial, termasuk ketidakadilan

Salah satu bentuk diskriminasi yang dibahas ialah pencampur-adukan jenis kelamin dan gender. Jenis kelamin adalah hal kodrati yang tak bisa diubah. Sementara gender, merupakan hal yang dijadikan parameter pengidentifikasian peran laki-laki dan perempuan, dan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat. Mengingat Indonesia adalah negara yang multikultur dan multietnis, siswa sangat mungkin berangkat dari latar belakang budaya yang berbeda. Namun, perspektif pedagogi feminis justru berusaha mengakomodir itu semua.

Kehadiran bias gender dalam dunia pendidikan tidak lain merupakan buah dari proses konstruksi sosial. Salah satunya lewat kurikulum pendidikan. Contohnya, pada buku-buku teks sekolah dasar tertulis ayah pergi ke kantor, ibu pergi ke pasar, Ayah setiap hari bekerja, ibu tugasnya memasak. Melalui berbagai pendekatan, paradigma tersebut dilanggengkan. Sehingga hal-hal yang sebenarnya tidak adil, menjadi sesuatu yang wajar karena sudah terlalu lama diterapkan.

Sejak zaman kemunculannya hingga konteks hari ini, pembahasan pedagogi feminis masih sangat penting untuk dikaji dan diterapkan. Karena ternyata masalah bias gender belum hilang, meski akses pendidikan bagi perempuan sudah terbuka lebar. Sayangnya, pedagogi feminis tidak mungkin berjalan apabila guru tidak memiliki perspektif terkait keadilan sosial.

Oleh karena itu, untuk membentuk guru-guru yang memiliki perspektif keadilan sosial, kampus-kampus LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan)-lah kunci awalnya. Di tengah karut-marut masalah pendidikan di Indonesia, LPTK semestinya memang memiliki determinasi konkrit, untuk mengambil peran besar dalam upaya perubahan masyarakat.

Kurnia Yunita Rahayu

Saturday, March 24, 2012

Sekolah Berkeadilan Sosial

Judul : Serikat Islam Semarang dan Onderwijs
Penulis           : Tan Malaka
Penerbit         : Pustaka Kaji
Tahun Terbit : 2011
Halaman        : 61 Halaman 

Jangan ajarkan kami soal a,b,c yang abstrak, karena yang harus diselesaikan adalah masalah-masalah konkrit.

Harapan rakyat pribumi untuk bisa mengenyam pendidikan hampir menemui titik terang. Digelontorkannya kebijakan Politik Etis (1901) oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda seakan jadi jawaban. Edukasi, irigasi, dan emigrasi diharap jadi jalan balas budi, atas apa yang telah rakyat berikan selama beratus tahun.

Jalan pendidikan bagi rakyat mulai terbuka. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih  bisa didapat. Sistem sekolah yang dibuat terbagi dalam dua jalur. Eropa totok dan pribumi. Dua perbedaan mendasar dari kedua jalur itu, terlihat jelas. Penggunaan bahasa pengantar, dan durasi sekolah. 

Sekolah anak-anak Eropa jelas menujukan muridnya pada keterampilan kerja otak. Sementara sekolah pribumi, setingginya membentuk lulusan sebagai juru tulis di kantor-kantor kolonial. Nilai Politik Etis yang diharap memberi masa depan cerah. Nyata hanya mereproduksi manusia-manusia yang digunakan untuk melanggengkan kepentingan pemerintah kolonial.

Berangkat dari realitas ini, maka mulai bermunculan ide-ide untuk membuat sekolah yang berpihak pada rakyat. Sekolah-sekolah partikelir, begitu kiranya disebut. Salah satunya Tan Malaka dengan Sekolah Serikat Islam-nya. Tahun 1921, muncul brosur tulisan Tan Malaka yang berjudul S.I. Semarang dan Onderwijs, berisi penjelasan tentang sekolah yang didirikan serta dikelolanya. 

Sekolah Serikat Islam Semarang didirikan untuk anak-anak pengurus serta aktivis Serikat Islam dan kaum kromo lainnya. Didirikan pada tahun 1921, atas permintaan dari ketua umum Partai Komunis Indonesia (PKI) pertama, Semaun. Ia memilih Tan Malaka atas dasar latar belakang pendidikannya. Tan Malaka memang seorang revolusioner yang memiliki kecendrungan di bidang pendidikan. Hal ini tidak lepas dari latar belakangnya sebagai lulusan sekolah guru di Bukit Tinggi, dan sempat meneruskan Sekolah Tinggi Guru di Haarlem, Belanda. 

Semaun dan Tan Malaka sepakat untuk mendirikan sekolah yang berbasis ideologi kerakyatan. Menurut Tan Malaka, “kekuasaan kaum modal terdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kemerdekaan rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.” Sadar akan kondisi ketertindasan rakyat, sekolah Serikat Islam dibentuk dengan tujuan lulusannya dapat menafkahi dirinya sendiri dan keluarga, serta membantu pergerakan rakyat.

Sekolah Serikat Islam menjadi representasi dari pola pikir Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) Tan Malaka. Pola-pola anti kolonial diterapkan. Soal-soal pertukangan, menjahit, pidato, berorganisasi, serta ide-ide kemerdekaan diajarkan disini. Selain itu, anak-anak pun dianjurkan untuk aktif tampil di vergadering-vergadering agar lebih banyak bersentuhan dengan rakyat. Dengan begitu mereka paham masalah dan apa-apa yang dirasakan oleh rakyat. 

Intelektual lulusan Sekolah Serikat Islam adalah orang-orang yang mencintai rakyatnya, Bukan para akademisi yang membentuk ruang eksklusif bagi kalangannya sendiri. 

Kontekstual dan Menjawab Tantangan

Netralitas atas pendidikan merupakan sebuah kenaifan. Tidak ada pendidikan yang membawa pengetahuan secara objektif. Selalu ada berbagai alasan mengapa sebuah pengetahuan bisa muncul. Sejarah pun menjawabnya dengan satu benang merah, relasi dengan kelompok dominan.

Kecendrungan dominasi kapital makin merajalela. Untuk menghadapi itu, pertama Tan Malaka membekali murid sekolah Serikat Islam dengan amunisi untuk mencari penghidupan dunia kemodalan. Membaca, menulis, hitung, masih diyakini sebagai kuncinya. 

Yang kedua murid-murid perlu diberi ruang untuk menikmati setiap fase perkembangannya. Sekolah govermen dengan berbagai kesibukan akademisnya nyata telah merepresi anak. Kewajiban untuk menghapal berbagai bahasan, pekerjaan rumah yang diberikan, membentuk anak-anak dengan satu kesibukan sepanjang hari, yaitu belajar. Sehingga teralienasi dari lingkungan sosialnya, kemudian potensial menjadi manusia-manusia berwatak individual.

Pada dasarnya, anak memang suka bermain dan berkumpul. Dalam perkumpulan itu, murid-murid sekolah Tan Malaka membentuk organisasi-organisasi kecil dari permainannya. Sengaja Tan tidak mengintervensi mereka dalam menentukan arah serta peraturan-peraturan. “Kita bukan hendak membentuk mereka menjadi gromopon, kita mau, supaya dia berpikir dan berjalan sendiri,” (Tan Malaka:1921).

Ketiga, membentuk kesadaran bahwa kelak mereka memiliki kewajiban terhadap kaum-kaum kromo lainnya. Sekolah govermen mendidik murid dengan menihilkan rasa cinta kepada rakyat. Melupakan kewajiban untuk menaikkan derajat orang-orang miskin. Didikan seperti ini melahirkan sebuah kelas baru yang terpisah dari rakyat, yang kemudian disebut terpelajar. 

Satu hal lagi yang turut membidani kelahiran kaum “terpelajar” adalah adanya pemisahan kerja otak dengan kerja tangan. Sekolah biasa, dianggap hanya untuk mencari kepandaian otak saja. Sementara kerja tangan dianggap sebagai yang rendahan. 

Maka untuk mengatasi kondisi seperti ini, hal pertama yang dilakukan di sekolah adalah melepas paradigma bahwa kaum kromo dengan pekerjaan tangannya itu rendah. Kebencian tak beralasan kepada mereka segera dihilangkan. Kemudian mengintimkan hubungan dengan kaum melarat.

Mandiri Mereproduksi Guru

Permintaan pendirian Sekolah Serikat Islam di beberapa kota makin gencar. Hal ini tentunya karena secara pembiayaan cenderung lebih murah, dan secara pematerian dapat memberi lebih dari sekolah govermen. Namun, satu masalah yang mencuat adalah soal kekurangan guru.

Sedikit orang melamar sebagai guru di Sekolah Serikat Islam. Terutama lulusan kweekschool, mereka belum melirik menjadi guru disana. Bukan besar gaji yang jadi persoalan, namun lebih kepada haluan yang berbeda. 

Mengatasi hal ini, Sekolah Serikat Islam mandiri memproduksi guru. Dipekerjakanlah anak-anak lulusan sekolah ongko loro. Lulusan sekolah ongko loro sudah berkompeten dalam baca, tulis, hitung, dan beberapa ilmu lain. Sehingga mereka bisa diperbantukan untuk mengajar sekolah rendah.

Juga dilakukan pemberdayaan atas mereka. Setelah mengajar sekolah rendah pagi sampai siang hari, mereka diberi kursus pedagogi sore harinya. Bicara kesejahteraan, penghasilan yang progresif mereka terima, sesuai dengan tingkat kursus dan kelas yang diajar.

Lulusan Sekolah Serikat Islam memang dirancang untuk menjadi pemimpin yang revolusioner. Para pemuda yang lulus kursus S.I. Semarang bisa menjadi guru S.I. lainnya. Pun jalan mereka sudah terbuka untuk memimpin rakyat. Kemampuan menjadi pembela perkumpulan politik sudah dimiliki. Karena ilmu-ilmu macam itu, sudah diteori dan dipraktikkan di Sekolah Serikat Islam.

Kurnia Yunita Rahayu

Tuesday, March 13, 2012

Berpikir Itu Seperti Otot


Judul Film : Dangerous Minds

Rilis          : 1995

Produksi   : Hollywood Picture

Sutradara  : John N. Smith

Pemain      : Michelle Pfeifer, George Dzundza, Courtney B. Vance, Robin   Bartlett, Beatrice Winde

Berbagai ide berbahaya dalam pendidikan ditampilkan dalam film ini.

Louanne Johnson muda, cantik, dan energik. Berbekal gelar sarjana Bahasa Inggris dan beragam pengalaman kerja sebelumnya, ia memutuskan diri untuk melamar pekerjaan sebagai guru. Beragam pekerjaan pernah dilakoninya, mulai dari public relation, pemasaran, hingga angkatan laut Amerika Serikat. Kompetensinya terakreditasi dengan baik di semua bidang, kecuali satu, bidang pendidikan. Ia hampir mendapat sertifikasi sebagai tenaga pendidik, namun hal itu terhenti karena ia menikah dan membantu pekerjaan suaminya. Malang tak dapat ditolak, belum bertahun usia perkawinannya, semua harus retak, ia bercerai.

Ia diterima sebagai guru di sekolah tempatnya melamar. Tidak tanggung-tanggung, diterima sebagai guru penuh, bukan sekedar paruh waktu. Louanne ditempatkan untuk mengajar di Academy Class. Kelas dengan murid-murid istimewa, cerdas, penuh gairah belajar, dan selalu tertantang untuk terus maju. Setidaknya begitu yang dipaparkan Carla, asisten kepala sekolah yang menerima lamaran Louanne.

Hari pertama mengajar, Louanne datang dengan penuh semangat. Berpakaian rapi dan lengkap laiknya seorang guru. Mempersiapkan kurikulum dan berbagai bahan ajar. Namun, apa yang didapatinya sungguh di luar ekspektasi.

Academy Class dipenuhi oleh anak-anak berkulit hitam, ya paling tidak mereka anak-anak miskin dari Amerika Latin. Perilakunya juga mengagetkan Louanne. Hari pertamanya, disambut dengan murid-murid yang asik bernyanyi dengan memukul-mukul meja sesuka hati. Mereka menantang Louanne apakah bisa bertahan di kelas mereka. Karena guru sebelumnya pun memutuskan untuk keluar akibat tidak tahan dengan sikap mereka. Tidak berhenti pada hal itu, seorang murid pun berani menggoda Louanne, meleceh keperempuanannya. Beberapa menit saja ia masuk di kelas itu, ia benar memutuskan diri untuk keluar. Kepergiannya dari kelas diiringi lemparan kertas dari seluruh murid.

Di luar kelas, ia mencari sahabat yang merekomendasikannya untuk melamar di sekolah ini, Hal Griffith. Louanne  geram mendapati Griffith yang dapat mengajar secara normal di kelas sebelahnya. Ia memaksa Griffith keluar. Geram, marah, mengadu ia pada Griffith. Tak terima atas penjelasan Carla, ia menuntut penjelasan lebih dari Griffith. Griffith pun memberitahukan bahwa Academy Class terdiri dari anak-anak dengan kompetensi akademik yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Tetapi mereka seperti itu, bukan tanpa sebab, mereka merupakan anak-anak yang berangkat dari beragam masalah sosial.

Tidak terima atas keadaan ini, Louanne terpikir untuk menyerah. Namun, kata-kata Griffith senantiasa menjadi angin yang mengipas bara semangatnya untuk terus menyala. “All you gotta do is get their attention, or quit!” tegas Griffith.

Berangkat dari keinginan murninya untuk mengajar, Louanne pun tekun mempelajari buku-buku disiplin asertif. Berbagai fenomena dan perilaku murid di kelas ia dapatkan dan pelajari sebelum masuk ke kelas. Paham akan sesuatu yang harus dilakukan, ia pun berangkat ke sekolah, mengajar, dengan semangat yang baru.

Bukan cara-cara ajaib  dengan metode rumit dan canggih yang ia lakukan hari itu. Hari itu, ia justru datang untuk menjadi bagian dari murid-muridnya di kelas. Dengan berpakaian yang sama dengan gaya murid-murid, ia mencoba memahami mereka dari bagian terluarnya.

Gaya para murid yang brutal, menginspirasi Louanne untuk tidak mengajar subjek yang menjadi disiplin ilmunya terlebih dahulu, Bahasa Inggris. Dengan bekal pengalamannya sebagai anggota Angkatan Laut Amerika Serikat, ia memulai pelajaran hari itu dengan materi Karate. Ya, Karate. Salah satu cabang bela diri yang berasal dari negara Jepang. Nyata melalui Karate, murid-murid begitu tertarik, karena pada dasarnya mereka pun suka berkelahi.

Sejatinya, Louanne memiliki pola yang sama dengan Paulo Freire ketika ditugasi untuk melakukan pemberantasan buta huruf di Guinea Bissau. Freire tidak mau mengajar, memberantas buta huruf di masyarakat sebelum mempelajari masyarakat itu sendiri. Ia harus menjadi bagian dari masyarakat, untuk memahami apa yang dirasakan, dan bisa menyusun apa yang akan dilakukan untuk melepas situasi yang menekan.

Murid-murid Academy Class kaya akan masalah sosial. Emilio yang berlatar keluarga broken home, miskin. Callie gadis misterius yang harus bekerja di supermarket setiap pulang dari sekolah. Duller dan Lionel keluarganya tidak setuju dengan sekolah, karena dianggapnya tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi hidup mereka. Dari keadaan ini, Louanne mencoba untuk mengenal mereka satu persatu. Dengan berbagai pendekatan baik yang persuasif, hingga yang adiktif.

Ide-ide Berbahaya

Gambaran bahaya sistem pendidikan di Amerika, digambarkan jelas dalam film ini. Pertama, adanya pemisahan  kelas untuk siswa-siswi berkompetensi akademik rendah dan memiliki beragam masalah sosial. Mereka dikelompokkan menjadi satu kelas. Hal ini tentu mengalienasi mereka dari lingkungannya. Teman-teman di sekolah melihat mereka sebagai siswa rendahan. Pun di masyarakat, mereka dianggap sekelompok manusia berkelakuan minus.  Keberadaan kelas ini bukan terlihat sebagai tempat untuk mendidik malah lebih mirip dengan penjara anak-anak.

Kedua, kelas ini mampu mengusir guru standar yang mengajar di kelas mereka. Kecenderungan guru pada umumnya adalah menyamaratakan perlakuannya terhadap siswa. Pendekatan yang dilakukan, sama kepada semua anak didiknya. Padahal ada beberapa situasi yang mengharuskan guru melakukan pendekatan berbeda terhadap siswanya. Terkait latar belakang kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Seperti anak-anak di Academy Class.

Beruntung Academy Class kedatangan Louanne  Johnson yang diperankan apik oleh Michelle Pfeiffer. Ia datang dengan segudang ide untuk belajar bersama mereka. Idenya untuk mengenal lebih jauh pribadi mereka dapat dianggap berbahaya pula. Louanne berani melebur diri dalam situasi siswa dengan beragam latar belakang masalah sosial. Kebanyakan dari mereka adalah bagian dari gangster-gangster dengan kehidupan yang keras.

Nilai pendidikan kritis pun ditampilkan dalam film yang disutradarai oleh John M. Smith ini. Materi yang dibawakan oleh Louanne saat mengajar bukan berasal dari rumusan baku ataupun kurikulum. Ia berangkat melalui puisi, yang menampilkan syair-syair beresensi pantang menyerah. Hal ini disesuaikan dengan kondisi Academy Class yang penuh dengan masalah sosial.

Louanne menekankan kepada siswa-siswanya bahwa kerja keras dalam belajar adalah kunci keberhasilan. Menurut Louanne, berpikir itu seperti otot. “If you want it to be really powerful, you got to work it out. Each new fact, give you another choice. Each new idea builds another muscle. And its those muscles that are gonna make you really strong. Those are your weapons in this unsafe world.”

Kurnia Yunita Rahayu

Sunday, March 4, 2012

Maya

Maya, kau rekam semua jejak. Baik yang ingin diingat, maupun dibuang.

Sejujurnya, benar aku ingin menjauh diri darimu, Maya.