Aku ingin menulis sebuah esei..
Monday, April 4, 2011
Rutinitas?
Rutinitas ini akan sampai pada titik "membunuh" apabila aku hanya mengikutinya.
Seperti sebuah kapasitor, sepertinya manusia juga akan sampai pada titik saturasinya. Ketika yang sebenarnya sangat disukai dilakukan berulang-ulang, dengan cara yang sama, melalui topik yang sama, sampai pada tingkat kelelahan yang menggila.
Bagaimana cara agar aku, kamu, kita, dan mereka tidak hidup hanya mengikuti arus? Rasanya sangat ideal seorang manusia mengharapkan hal macam ini. Namun kupikir ini penting, agar segala hal yang dikerjakan menjadi maksimal, aliran darah menderas secara normal, dan alunan nada analisis kehidupan menjadi semakin tajam.
Oh jadi apa ini yang ideal bagiku? Menginginkan hidup yang tidak terduga? Bukankah Dia pun sudah merancang makhluknya sebagai yang hanya dapat mengikuti rencanaNya? Jadi bagian mana dari hidup ini yang dapat aku sebut sebagai rutinitas? Jika semua tak bisa aku ketahui dengan pasti, lalu mengapa ada cetusan ide untuk menggunakan kata rutinitas?
Saturday, March 12, 2011
Apa yang Salah dengan Pancasila?
Berbagai penyimpangan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari menimbulkan pertanyaan masih relevankah Pancasila diterapkan di negeri ini?
Nilai Ketuhanan tidak dilaksanakan dengan terwujudnya berbagai kekerasan atas nama agama dan atas nama pembelaan terhadap Tuhan. Nilai kemanusiaan dipraktekkan dengan banyaknya pembantaian antar kelompok etnis maupun ras. Nilai persatuan juga terlanggar dengan banyaknya kaum yang merasa lebih superior dari yang lainnya. Nilai musyawarah untuk mufakat telah lama dikhianati dengan lebih memasyarakatnya sistem pengambilan keputusan dengan cara voting yang mungkin lebih mencerminkan kehidupan dengan sistem liberal. Dan yang terakhir, nilai keadilan, hal ini sangat mudah kita temukan dan rasakan penyimpangannnya dengan melihat ke sekitar. Banyaknya penduduk yang tinggal di bantaran kali atau di pinggir rel kereta cukup ironi jika dibandingkan dengan semakin banyaknya jumlah mobil yang ada di Jakarta.
Dan sekali lagi kita bertanya, masih relevankah Pancasila menjadi dasar Negara ini? Sebagai seorang warga Negara Indonesia, bagian dari bangsa Indonesia. Saya tidak ingin menjadi orang yang pesimis. Dengan keyakinan bahwa suatu hari negeri ini akan bangkit, maka caranya adalah mengembalikan pola hidup Negara ini sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Tidak ada yang salah dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Semua dibuat disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan pribadi bangsa kita. Yang terjadi saat ini adalah penyimpangan-penyimpangan karena kelalaian bangsa Indonesia sendiri. Jika kita mengganti dasar Negara ini menjadi bukan Pancasila, maka Negara ini bukan Indonesia lagi. Indonesia hanya tinggal kenangan dalam sejarah.
Oleh karena itu, sebagai bangsa Indonesia mari kita kembali ke Pancasila, bukan mengganti Pancasila dengan dasar Negara yang lain. Nilai-nilai luhur yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini bukan diraih dengan mudah namun dengan mengorbankan seluruh jiwa dan raga mereka. Kita yang hidup di masa yang sudah merdeka, seharusnya melanjutkan perjuangna mereka dengan memajukan Negara ini, dimulai dengan berpola hidup sesuai dengan Pancasila.
Kurnia Yunita Rahayu
Nilai Ketuhanan tidak dilaksanakan dengan terwujudnya berbagai kekerasan atas nama agama dan atas nama pembelaan terhadap Tuhan. Nilai kemanusiaan dipraktekkan dengan banyaknya pembantaian antar kelompok etnis maupun ras. Nilai persatuan juga terlanggar dengan banyaknya kaum yang merasa lebih superior dari yang lainnya. Nilai musyawarah untuk mufakat telah lama dikhianati dengan lebih memasyarakatnya sistem pengambilan keputusan dengan cara voting yang mungkin lebih mencerminkan kehidupan dengan sistem liberal. Dan yang terakhir, nilai keadilan, hal ini sangat mudah kita temukan dan rasakan penyimpangannnya dengan melihat ke sekitar. Banyaknya penduduk yang tinggal di bantaran kali atau di pinggir rel kereta cukup ironi jika dibandingkan dengan semakin banyaknya jumlah mobil yang ada di Jakarta.
Dan sekali lagi kita bertanya, masih relevankah Pancasila menjadi dasar Negara ini? Sebagai seorang warga Negara Indonesia, bagian dari bangsa Indonesia. Saya tidak ingin menjadi orang yang pesimis. Dengan keyakinan bahwa suatu hari negeri ini akan bangkit, maka caranya adalah mengembalikan pola hidup Negara ini sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Tidak ada yang salah dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Semua dibuat disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan pribadi bangsa kita. Yang terjadi saat ini adalah penyimpangan-penyimpangan karena kelalaian bangsa Indonesia sendiri. Jika kita mengganti dasar Negara ini menjadi bukan Pancasila, maka Negara ini bukan Indonesia lagi. Indonesia hanya tinggal kenangan dalam sejarah.
Oleh karena itu, sebagai bangsa Indonesia mari kita kembali ke Pancasila, bukan mengganti Pancasila dengan dasar Negara yang lain. Nilai-nilai luhur yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini bukan diraih dengan mudah namun dengan mengorbankan seluruh jiwa dan raga mereka. Kita yang hidup di masa yang sudah merdeka, seharusnya melanjutkan perjuangna mereka dengan memajukan Negara ini, dimulai dengan berpola hidup sesuai dengan Pancasila.
Kurnia Yunita Rahayu
Saturday, February 26, 2011
Aku, otak, dan hati. Terjerembab!
Sang filsuf mengatakan bahwa kebenaran itu relatif. Bergantung pada kesesuaiannya pada kenyataan. Kini yang jadi persoalan adalah: tidak ada kenyataan yang kekal, selalu berubah seiring berjalannya waktu.
Sebagai seorang yang hidup dalam waktu kini akupun mempertanyakan: apakah kebenaran perasaan yang pernah pernah singgah di hatiku akan tetap ada? Dengan ukuran yang samakah?
Saat ini kegundahan menggerogoti hati kecil ini. Ketidakadilan keadaan dan kesakitan-kesakitan berlomba-lomba menguasai pedalaman hati ini
Lalu sekarang aku harus apa? Aku memang egois, aku tidak mau sakit. Paling tidak aku akan membutuhkan segala yg dapat kujadikan pembenaran atas setiap keputusan yang pernah dan akan kubuat.
Kurnia Yunita Rahayu
Sebagai seorang yang hidup dalam waktu kini akupun mempertanyakan: apakah kebenaran perasaan yang pernah pernah singgah di hatiku akan tetap ada? Dengan ukuran yang samakah?
Saat ini kegundahan menggerogoti hati kecil ini. Ketidakadilan keadaan dan kesakitan-kesakitan berlomba-lomba menguasai pedalaman hati ini
Lalu sekarang aku harus apa? Aku memang egois, aku tidak mau sakit. Paling tidak aku akan membutuhkan segala yg dapat kujadikan pembenaran atas setiap keputusan yang pernah dan akan kubuat.
Kurnia Yunita Rahayu
Wednesday, February 2, 2011
Pisah?
Jika memang harus berpisah, kenapa tidak?
Beberapa orang teman seangkatan di kampus saya memutuskan untuk mengakhiri pendidikannya di universitas karena berbagai macam alasan.
Sebagai teman, mungkin saya merasa akan ada yang hilang karena sedikit banyak mereka sudah menjadi bagian dari hidup saya selama enam bulan belakangan.
Mohon maaf jika hanya itu yang saya rasakan.
Memang, saya memilih untuk tidak terlalu dalam mengenal kalian. Karena jujur, saya takut dikecewakan.
Kini pilihan saya jatuh pada: saya tidak ingin tahu banyak daripada harus menderita banyak kekecewaan karena terlanjur mengetahui pedalaman sesuatu.
Di akhir, saya ingin mengucapkan selamat jalan bagi kalian yang sudah memiliki jalan sendiri. Semoga akan menjadi keputusan yang terbaik, God bless you guys..
Beberapa orang teman seangkatan di kampus saya memutuskan untuk mengakhiri pendidikannya di universitas karena berbagai macam alasan.
Sebagai teman, mungkin saya merasa akan ada yang hilang karena sedikit banyak mereka sudah menjadi bagian dari hidup saya selama enam bulan belakangan.
Mohon maaf jika hanya itu yang saya rasakan.
Memang, saya memilih untuk tidak terlalu dalam mengenal kalian. Karena jujur, saya takut dikecewakan.
Kini pilihan saya jatuh pada: saya tidak ingin tahu banyak daripada harus menderita banyak kekecewaan karena terlanjur mengetahui pedalaman sesuatu.
Di akhir, saya ingin mengucapkan selamat jalan bagi kalian yang sudah memiliki jalan sendiri. Semoga akan menjadi keputusan yang terbaik, God bless you guys..
Tuesday, January 25, 2011
Tuhan
Dengan kapasitas berpikir yang entah bertambah atau berkurang dari sebelumnya, kini aku dapat berpikir bahwa:
Keesaan Tuhan bukan berarti Ia dapat terhitung oleh manusia.
Kegaiban Tuhan tidak sama dengan setan-setan yang juga tidak dapat kita lihat.
Kebaikan Tuhan tidak sekedar dengan hal yang kita anggap baik, seperti: memberi rezeki.
Tuhan itu jauh di luar jangkauan kapasitas berpikir manusia, namun tidak berarti Ia mengeksklusifkan diri dari makhluk-Nya.
Tuhan itu dekat, mungkin lebih dekat dari urat nadi. Begitu tutur para pemuka agama.
Namun kedekatannya mungkin tidak se-sederhana itu.
Ketika kita berkata jauh, jauh-Nya pun bukanlah dalam ukuran jarak yang bisa dipelajari manusia.
Wahai Tuhan, kecil sekali kemampuan manusia untuk memahami-Mu.
Dan mungkin Dirimu pun bukan untuk kami pahami, dengan rumus, teori, atau argumentasi apapun.
Kenyataannya,
Kami bertanya dan akan terus berpikir tentang-Mu,
namun Dirimu melebihi esensi dan eksistensi.
Jika Kau ingin berbangga hati, maka berbanggalah karena:
tak ada satu pun di dunia ini yang dapat membuktikan ketidakberadaan-Mu.
Kurnia Yunita Rahayu
Keesaan Tuhan bukan berarti Ia dapat terhitung oleh manusia.
Kegaiban Tuhan tidak sama dengan setan-setan yang juga tidak dapat kita lihat.
Kebaikan Tuhan tidak sekedar dengan hal yang kita anggap baik, seperti: memberi rezeki.
Tuhan itu jauh di luar jangkauan kapasitas berpikir manusia, namun tidak berarti Ia mengeksklusifkan diri dari makhluk-Nya.
Tuhan itu dekat, mungkin lebih dekat dari urat nadi. Begitu tutur para pemuka agama.
Namun kedekatannya mungkin tidak se-sederhana itu.
Ketika kita berkata jauh, jauh-Nya pun bukanlah dalam ukuran jarak yang bisa dipelajari manusia.
Wahai Tuhan, kecil sekali kemampuan manusia untuk memahami-Mu.
Dan mungkin Dirimu pun bukan untuk kami pahami, dengan rumus, teori, atau argumentasi apapun.
Kenyataannya,
Kami bertanya dan akan terus berpikir tentang-Mu,
namun Dirimu melebihi esensi dan eksistensi.
Jika Kau ingin berbangga hati, maka berbanggalah karena:
tak ada satu pun di dunia ini yang dapat membuktikan ketidakberadaan-Mu.
Kurnia Yunita Rahayu
Tuesday, January 11, 2011
Ketika kita bicara, lalu menginginkannya
ketika kita bosan bicara tentang cinta
lalu aku akan bertanya, apakah cinta yang membosankan?
ketika kita mulai bicara tentang manusia
lalu aku akan bertanya, apakah manusia hal terpenting di dunia?
ketika kita ingin berjalan bersama
lalu aku akan bertanya, apakah ini yang sebenarnya kita butuhkan?
Kurnia Yunita Rahayu
lalu aku akan bertanya, apakah cinta yang membosankan?
ketika kita mulai bicara tentang manusia
lalu aku akan bertanya, apakah manusia hal terpenting di dunia?
ketika kita ingin berjalan bersama
lalu aku akan bertanya, apakah ini yang sebenarnya kita butuhkan?
Kurnia Yunita Rahayu
Subscribe to:
Posts (Atom)