Wednesday, February 2, 2011

Pisah?

Jika memang harus berpisah, kenapa tidak?
Beberapa orang teman seangkatan di kampus saya memutuskan untuk mengakhiri pendidikannya di universitas karena berbagai macam alasan.
Sebagai teman, mungkin saya merasa akan ada yang hilang karena sedikit banyak mereka sudah menjadi bagian dari hidup saya selama enam bulan belakangan.
Mohon maaf jika hanya itu yang saya rasakan.

Memang, saya memilih untuk tidak terlalu dalam mengenal kalian. Karena jujur, saya takut dikecewakan.
Kini pilihan saya jatuh pada: saya tidak ingin tahu banyak daripada harus menderita banyak kekecewaan karena terlanjur mengetahui pedalaman sesuatu.
Di akhir, saya ingin mengucapkan selamat jalan bagi kalian yang sudah memiliki jalan sendiri. Semoga akan menjadi keputusan yang terbaik, God bless you guys..

Tuesday, January 25, 2011

Tuhan

Dengan kapasitas berpikir yang entah bertambah atau berkurang dari sebelumnya, kini aku dapat berpikir bahwa:

Keesaan Tuhan bukan berarti Ia dapat terhitung oleh manusia.
Kegaiban Tuhan tidak sama dengan setan-setan yang juga tidak dapat kita lihat.
Kebaikan Tuhan tidak sekedar dengan hal yang kita anggap baik, seperti: memberi rezeki.

Tuhan itu jauh di luar jangkauan kapasitas berpikir manusia, namun tidak berarti Ia mengeksklusifkan diri dari makhluk-Nya.

Tuhan itu dekat, mungkin lebih dekat dari urat nadi. Begitu tutur para pemuka agama.
Namun kedekatannya mungkin tidak se-sederhana itu.
Ketika kita berkata jauh, jauh-Nya pun bukanlah dalam ukuran jarak yang bisa dipelajari manusia.

Wahai Tuhan, kecil sekali kemampuan manusia untuk memahami-Mu.
Dan mungkin Dirimu pun bukan untuk kami pahami, dengan rumus, teori, atau argumentasi apapun.

Kenyataannya,
Kami bertanya dan akan terus berpikir tentang-Mu,
namun Dirimu melebihi esensi dan eksistensi.

Jika Kau ingin berbangga hati, maka berbanggalah karena:
tak ada satu pun di dunia ini yang dapat membuktikan ketidakberadaan-Mu.

Kurnia Yunita Rahayu

Tuesday, January 11, 2011

Ketika kita bicara, lalu menginginkannya

ketika kita bosan bicara tentang cinta
lalu aku akan bertanya, apakah cinta yang membosankan?

ketika kita mulai bicara tentang manusia
lalu aku akan bertanya, apakah manusia hal terpenting di dunia?

ketika kita ingin berjalan bersama
lalu aku akan bertanya, apakah ini yang sebenarnya kita butuhkan?

Kurnia Yunita Rahayu

Saturday, December 18, 2010

17 Desember 2010

Sahabat..
namamu kukenal dari berbagai buku, koran, majalah, bahkan kiprah dan kisah hidupmu kini diabadikan dalam sebuah film
banyak lagu yang mengalun, menjuntai indah, berkumandang untuk mengingat peranmu sebagai pemuda, mahasiswa

Gie.. masa ketika kita menjadi mahasiswa memang indah
penuh dengan pergolakan pemikiran, gejolak rela berkorban yang sangat membara
untuk siapa?
tentu saja mahasiswa sebagai manusia paling idealis di muka bumi akan menjawab: demi rakyat Indonesia!

sekarang aku ada di masa itu Gie..
masa-masa menjadi mahasiswa
aku melangkah di jalan-jalan yang dulu kamu lewati
menapaki tangga-tangga yang biasa menjadi tempatmu bersenda gurau dengan kawan-kawanmu
ikut bercanda riang di kantin-kantin tempatmu bicara banyak mengenai dunia
walaupun warna yang kita pakai berbeda
namun aku tetap merasakan kemesraan dengan sejarah pergerakanmu di tempat itu Gie..

jejeran gedung itu, belum diubah sejak kau masih menimba ilmu disana
jalan-jalan itu masih sama rutenya
rawamangun memang akan tetap menjadi tempa bersejarah bagi pemuda Indonesia

satu hal lagi yang aku sadari
jalan utama disana bertuliskan JALAN PEMUDA
sesuai dengan nama jalan itu
aku berharap dapat menjadi pemuda yang sesungguhnya Gie
bukan yang hanya mementingkan fashion, kepopuleran, ataupun uang

terima kasih ya Gie..
walaupun aku tak pernah mengenalmu, tidak sekalipun bertatap mata denganmu
namun, aroma nafas perjuanganmu masih dapat aku rasakan sampai detik ini
catatan harian dan kiprahmu sebagai manusia menginspirasi banyak orang
niatmu begitu tulus, idealisme mu begitu suci, tak mau tersentuh oleh bajingan-bajingan politik yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat

selamat ulang tahun Gie..
semoga Tuhan menjamah seluruh pengorbananmu untuk negeri ini, demi rakyat di negeri yang kau cintai ini

Kurnia Yunita Rahayu

Tuesday, November 30, 2010

Keep Writing!

There is no other way to capture the ideas except by writing

Kurnia Yunita Rahayu

Untuk blog-ku tersayang

ini hal yang gawat
otak ini terasa beku, mati
tidak dapat mengeluarkan ide-ide brilian untuk dituliskan

beberapa bulan ini waktu saya tersita hampir seluruhnya hanya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, menyita waktu, tenaga, pikiran, serta asa hidup
sore ini, saya baru sadar akan satu hal
satu hobi yang telah menjadi kebiasaan itu telah terlupa
tidak terjamah lagi

blog ku yang indah, blog ku yang cerdas
mohon maaf ya..
mungkin aku sangat berdosa, membiarkan para laba-laba membuat sarang di dindingmu yang tebal
membuat para nyamuk seenaknya berkembang biak di tamanmu yang permai

aku tak ingin membuat janji-janji palsu padamu, blogku yang manis..
yang pasti kamu tahu aku tidak akan membiarkanmu runtuh bagai kuil parthenon yang ditinggal oleh dewa perangnya
aku tidak akan mengganti fungsimu sebagai tempat ku berkarya, seperti bangsa Spanyol menjadikan masjid Kordoba sebagai gereja kathedral

ini adalah komitmen awal yang harus kita bangun manisku
mari kita menari di atas seluruh fenomena yang bisa ditangkap oleh indra
tidak menyecer setiap pemikiran yang terlewat dalam setiap detiknya
dengan menuliskan hal-hal berkualitas, untuk para pembaca yang berkualitas

Thursday, November 4, 2010

My Reason to Choose History as My Major

Originated from my love to the temples, seeing and trying to understand the reliefs there, makes me want to learn further about messages and values contained there. Beside that, since I was a young I was a lovers of folklore and history of Javanese Puppets, which are often told by my father. My various experiences above forming the image in my mind that the “classic things” is “priceless”.

Along the increased age, I became a book lovers. Not comic books, or teenage novels, but I prefer the history books or historical fiction books. By reading various works of history, many figures becomes an inspiration in my life. Such as HOS Tjokroaminoto, how he summon up all the Indonesian people under the banner of Sjarikat Islam conduct a national movement to cast out the Dutch from our beloved country. Tan Malaka, one that consistently take the fight way against the invaders through his thoughts that gave birth various state-strategy encompassing guerrilla, political, and economy. And even, until now his thoughts are still colorize the soul of Indonesian Murbaism.

I am the one who loves writing. There is no other way to capture the ideas except by writing. In the future I wanted to create a masterpiece with the breath of history. For that reason I have to enter college majoring in history. I want to learn how history was made, from where perspective the events can considered as a history, and of course collecting fully history information to support my passion to write a works of history.

Learning history doesn’t mean just wasting time because having to remember the past. For me, we will not be able to do better without learning from history. And that is the function of history, makes us learn from the past, to live life today, and to mapping our future. Beside that, learning history will broaden our knowledge, because in studying history we are required to read a lot, explore the historical information from various historical literature.

My love of history, and also my passion to make masterpieces of history encouraged me to choose history department. And Alhamdulillah God is agreed I am accepted in State University of Jakarta majoring in history.


Development of Educational History in Indonesia

Educational history in Indonesia is continues to grow from time to time, as more and more discovery of evidences of historical facts are still being debated because have not been revealed in the past.

In the reign of Orde Lama, history told us how the heroes fought independence from colonial nation. And how the struggle for independence that has been achieved, because the invaders tried to re-enter and colonize Indonesia.

After the reign of Orde Lama was deposed by student movement in 1966, it gives birth the reign of Orde Baru which provides restrictions on the educational history. So many historical facts that are hidden even deliberately omitted for the glory of the rulers at that time, namely from military.

When students returned to the movement in 1998, deposed the corrupt reign of Orde Baru with the spirit of reformation. As a successor regime, Orde Reformasi set us free from shackles concealment history as is done by the Orde Baru. We are free to read any history that we want. Modern historians have no doubt to released their newest result of research such as Ahmad Mansur Suryanegara who has published his newest books Api Sejarah, and Api Sejarah 2. The books reveals the role of clerics and Islamic youth in the war of independence.

Basically patterns of educational history at each age is an antithesis from previous period. It can’t be separated from the function of history especially for not recur the things that are not desirable.

--my english midterms

Kurnia Yunita Rahayu